Parkour Jakarta

Parkour Jakarta

ParkourJKT  //  Parkour Jakarta is one of Parkour Indonesia's sub-groups. This group is created for those of you who live, work, study, or even on a vacation in Jakarta to practice and learn parkour together. So, what are you waiting for? Join us, jam with us, and free yourself!

Contact us at parkourjakarta[at]gmail.com

Nov 29 / 9:44am

Kenal dgn penderita bibir sumbing atau katarak? Ayo bantu mereka dgn memforward informasi ini

Dear friends,

Jika ada kerabat, saudara, teman, atau siapapun yang kamu kenal namun menderita bibir sumbing atau katarak, YAYASAN HAYANDRA PEDULI oleh dr. Karina F. Moegni membuka lebar bagi keluarga yang tidak mampu untuk dibebaskan atas biaya operasi.

Syarat:

  1. Fotokopi KTP
  2. Fotokopi Kartu Keluarga
  3. Surat keterangan tidak mampu dari RT
  4. foto penderita

Segera kirimkan berkasnya dengan menghubungi Ridwan/Ridi 0812 8625 3995 atau dapat dikirimkan melalui lampiran email ke parkourjakarta@gmail.com. Berkas diharapkan diserahkan sebelum pertengahan Desember untuk diproses lebih lanjut.

Terimakasih. Etre fort pour etre utile!

Oct 2 / 3:25pm

Jump Bandung #1. Sebuah dokumenter pendek kolaborasi Parkour Bandung dan GD Studio

Semoga video dokumenter singkat ini dapat memberi gambaran bagi teman-teman mengenai seperti apa latihan parkour dan bagaimana sejarahnya.

Video di atas diupload di Youtube dan mendapatkan banyak sekali respon positif tidak hanya dari teman-teman di Indonesia, tapi juga dari luar Indonesia. Salah satunya dari user dengan nama WestLondonParkour yang sedikit menambahkan informasi tentang sejarah parkour. Demikian katanya:

parkour was made a discipline in 1895 by georges hebert for the french marines and parisian fire dept under the name "l'art du deplacement". in the 1970s, raymond belle used it as a tool and taught it to his son david, who turned it into an art by the 1980s. "Parkour" is the >international< version of the word "parcours", meaning a journey or a trip, or to traverse something; it has no literal english translation. sebastien "created" freerunning parallel with parkour, not as part of it.

terjemahan >>>

Parkour berawal dari sebuah disiplin yang ada pada tahun 1895 yang digunakan oleh seseorang bernama Georges Hebert untuk pelatihan marinir Prancis dan pemadam kebakaran Kota Paris. Saat itu disiplin ini dikenal dengan nama "l'art du deplacement". Pada tahun 1970an, Raymond Belle menggunakannya sebagai disiplin yang dapat diaplikasikan dan mengajarkannya pada anaknya, David Belle, yang kemudian menjadikannya sebuah seni pada tahun 1980an. Parkour sebenarnya adalah versi internasional dari kata "parcours", yang berarti sebuah perjalanan atau perpindahan; tidak ada terjemahan langsung di Bahasa Inggris. Sebastian Foucan memperkenalkan freefunning yang parallel dengan parkour, bukan sebagai bagian dari parkour.

Tambahan informasi dari WestLondonParkour ini tentu hanya segelintir sejarah singkat tentang parkour. Mungkin beberapa teman-teman sudah mengetahui mengenai sejarah parkour. Namun tidak ada salahnya agar kita terus menambah referensi yang kita ketahui. Demi pemahaman parkour yang menyeluruh dan menjaga semangat parkour yang kita miliki saat ini.

Filed under  //  Documentary  
Oct 2 / 2:59pm

Dokumentasi Video Jamming Nasional 2010 Parkour Indonesia

Momen ngumpulnya para praktisi parkour nasional. Acara tahunan ini dilaksanakan selama tiga hari. Selama tiga hari itu peserta Jamnas melakukan kegiatan jamming parkour bersama, diskusi, senang-senang, foto-foto, makan-makan, ngeceng-ngeceng, dll. Kota Bandung berkesempatan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Jamnas tahun 2010. Saat itu panitia berhasil mengajak dua orang praktisi parkour dari Inggris, Stephane dan Thomas, untuk berbagi seputar pengalaman mereka berlatih parkour sekaligus mengenalkan sedikit metode-metode latihan yang mereka gunakan di tempat mereka melatih.

Filed under  //  Jamnas  
Jul 22 / 10:45am

Ultah Parkour Indonesia ke-4 menghasilkan belasan ribu press up dan ratusan kilometer quadrupedal

Hari minggu 17 Juli 2011 kemarin merupakan hari yang bersejarah buat keluarga besar komunitas Parkour Indonesia. Karena pada hari tersebut Parkour Indonesia merayakan hari jadinya yang ke-4.

Untuk merayakan hari jadinya, Parkour Indonesia mengadakan Jamming serempak pada hari yang sama, yaitu tanggal 17 Juli 2011 lalu dan dilaksanakan di masing-masing cabang perwakilan Parkour Indonesia, mulai dari kota besar sampai kota terkecil di pulau Jawa juga turut melakukan Jamming bersama.

Yang menarik dari Jamming tersebut adanya, tugas yang harus dilakukan masing-masing peserta jamming tersebut. Masing-masing peserta harus melakukan tugas utama. Diantaranya adalah melakukan press up (push up) masing-masing orang 44 kali dan melakukan quadrupedal movement masing-masing orang 400 meter. Jumlah per orangan tersebut digabung menjadi satu dan dijumlahkan per kota. Otomatis, kota-kota yang memiliki praktisi jamming terbanyak mendapatkan jumlah press up dan quadrupedal terbanyak.

Adapun jumlah Press Up dan Quadrupedal dari masing-masing kota yang berpatisipasi bisa dilihat di bawah ini:

Jumlah Press Up

Press Up Parkour Bandung                 : 3.960

Press Up Parkour Jakarta                   : 3.835

Press Up Parkour Makassar                : 1.716

Press Up Parkour Bengkulu                 : 1.320

Press Up Parkour Palu                       : 1.320

Press Up Parkour Bali                        : 1.144

Press Up Parkour Banjarmasin             : 1.100

Press Up Parkour Jogja                      : 1.012

Press Up Parkour Cimahi                    :    880

Press Up Parkour Malang                   :    660

Press Up Parkour Bogor                     :    660

Press Up Parkour Pasuruan                 :    440

Press Up Parkour Kandangan              :    440

Press Up Parkour Tangerang              :    352

Press Up Parkour Sukabumi                :    308

Press Up Parkour Samarinda               :    220

Jumlah Total                                   : 19.367

Jumlah Quadrupedal

Quadrupedal Parkour Jakarta             : 33.500m (33,5 Km)

Quadrupedal Parkour Bandung           : 32.000m (32 Km)

Quadrupedal Parkour Makasar            : 15.200m (15,2 Km)

Quadrupedal Parkour Palu                 : 12.000m (12 Km)

Quadrupedal Parkour Bengkulu           : 12.000m (12 Km)

Quadrupedal Parkour Banjarmasin       : 10.000m (10 Km)

Quadrupedal Parkour Jogja                :   9.200m (9,2 Km)

Quadrupedal Parkour Pasuruan           :   8.000m (8 Km)

Quadrupedal Parkour Cimahi               :   8.000m (8 Km)

Quadrupedal Parkour Bogor                :   6.000m (6 Km)

Quadrupedal Parkour Tangerang         :   3.200m (3,2 Km)
 

Quadrupedal Parkour Sukabumi           :   2.800m (2,8 Km)

Quadrupedal Parkour Samarinda          :   1.600m (1,6 Km)

Jumlah Todal                                   :  153,500m (153,5 Km)

Kenapa Press Up dan Quadrupedalyang diperbanyak? Press up atau Push Up adalah conditioning sederhana dan umum yang tidak hanya dilakukan di parkour saja. Di olahraga atau kegiatan fisik lainnya juga akrab dengan conditioning seperti ini. Parkour identik dengan pergerakan fisik seluruh tubuh. Press up ada latihan fisik upper body yang bias dilakukan siapapun. Latihan rutin per hartinya akan menambah stregh dan power untuk tubuh bagian atas sehingga bisa digunakan untuk melakukan gerakan parkour. Sedangkan Quadrupedal Movement (gerakan empat tumpuan) berfungsi untuk mengkoordinasi seluruh tubuh, mulai dari tangan, bahu, punggung, paha, kaki. Gerakannya memang terlihat seperti merangkak, tapi funbgsinya sangat besar untuk menunjang tubuh anda dalam melakukan parkour.

Untuk itulah, demi mendidik para praktisi Parkour Indonesia untuk melatih fisik dan staminanya, conditioning press up dan quadrupedal akan sering dilakukan, baik itu saat latihan biasa maupun latihan jamming serempak seperti hari ini.

Mudah-mudahan di hari ultah yang keempat ini, Parkour Indonesia memiliki para praktisi dengan jiwa dan raga yang sehat, kuat, gesit sehingga kekuatan dan dan kegesiutannya bisa berguna untuk menolong diri sendiri dan menolong orang lain pada umumnya, sesuai dengan motto klasik parkour “etre fort pour etre utile” dan “etre et durer”.

Berikutr Ini ada beberapa foto keluarga besar Parkour Indonesia yang melaksanakan Jamming Ultah 4.

Parkour Samarinda

Parkour Sukabumi

Parkour Tangerang

Parkour Pasuruan

Parkour Malang

Parkour Tarakan

Parkour Cimahi

Parkour Bali

Parkour Jogja

Parkour Cirebon

Parkour Banjarmasin

Parkour Bengkulu

Parkour Palembang

Parkour Palu

Parkour Makasar

Parkour Jakarta

Parkour Bandung

Terima kasih buat yang sudah berpartisipasi. Parkour Indonesia bukan sebuah team atau komunitas. Tapi lebih dari itu. Sebuah Keluarga!

Filed under  //  parkour indonesia  
Jan 10 / 8:40pm

Ika Rahmawati, one of our female practitioners, shared her parkour journey on The Jakarta Globe

At first glance, parkour might seem like the most ridiculous craze since the Pet Rock or Tamagotchi. People running around town leaping over ledges and balancing on benches doesn’t seem like much of a sport. But as it turns out, the French discipline, which has been described as a kind of urban ballet, contains lasting lessons for its practitioners in Jakarta’s concrete jungle. We caught up with  26-year-old die-hard fan Ika to find out why.

How long have you been practicing parkour?

About two years. It all started in July 2008 when I went to see some cool bands at the Ancol Urban Festival.

There were parkour practitioners there performing and that piqued my interest. I started training the next week.

Do you practice at Krida Loka Park in Senayan every Sunday?

Every Sunday we hold classes here and train newcomers to the sport.

But me and some friends, the other parkour practitioners, also come after work around 7.30 p.m. on Tuesdays and Thursdays.

But most of the time I practice parkour in my bedroom.

Where else do you guys practice?

We also use the swimming pool compound at Gelora Bung Karno, behind the swimming club. They have stairs and higher levels there. A few days ago, some of us went to Kota Tua to practice there.

How far can you jump?

My farthest jump was across a gap that was something like 1.4 meters.

Are there a lot of traceuses (female parkour practitioners) in Jakarta?

There are some who just come occasionally or are curious and give it a try, but there aren’t many traceuses who are really committed to parkour and come to practice regularly. Maybe there are only five of us in the city.

So it’s safe to say you’re one of the die-hard traceuses?

I’m really passionate about parkour. It’s like a religion to me. It’s a part of my life and I’m committed to it.

What kind of life lessons have you taken away?

Determination and patience. You don’t overcome an obstacle just to show off or look cool in front of people.

Overcoming something helps you learn more about yourself; your abilities as an athlete, how far you can push yourself and the way you communicate with yourself. To be good, it takes months — even years.

At first I tried to show off, so I got bruised up and sprained my ankle before I really learned about how far I could push myself and what my body was capable of.

Have you ever gone to work using parkour?

Yeah. I have tried to run and jump all the way home after work — from Grogol to Slipi, which is around four kilometers — a few times, but the pollution here in the city makes it impossible.

The best place for parkour is here at Gelora Bung Karno. No one will stare at you like a weirdo when you’re practicing here.

How else has the sport affected your life?

I lost eight kilograms in two years without even dieting.

I still eat whatever I want. I don’t want to miss out on good food.

Parkour also positively affects my social and office life.

It gives me the confidence I need to interact with other people.

I talk with people at the training and, well, it’s hard to describe, but parkour lessons can be implemented in daily life too. Parkour teaches a lot about life.

Do you think you’ll be practicing parkour for years to come?

I don’t know. I want to do it as long as I’m strong enough to do it, even after I have kids.

I’ll probably introduce parkour to my children as well.

Now the problem is to find a guy who can actually accept me and my hobby, parkour.

They think female traceuses are boyish. But that’s just not true [laughs].

Sep 29 / 10:44pm

Jurnal Jamming Nasional 2010 Parkour Indonesia

Bandung , 24-26 September 2010

Berawal dari sebuah cita-cita dan impian berbuah kenyataan. Semua itu tidak lepas dari kerja keras untuk mewujudkan impian itu. Pernyataan ini sangat tepat ditujukan para praktisi parkour Indonesia, khusunya bagi Parkour Bandung yang telah menjadi tuan rumah buat acara besar buat Parkour Indonesia, yaitu Jamnas 2010 dengan tema “A Journey Closer To The Root”.

Yang membahagiakan dari Jamnas kali ini adalah kehadiran Stephane Vigroux dan Thomas Couetdic , dua praktisi parkour berpengalaman asal Perancis yang saat ini tergabung dalam organisasi Parkour Generation.

Siapakah mereka?

Orang yang pertama adalah Stephane Vigroux. Ia merupakan anak didik langsung dari founder parkour, David Belle. Bersama David Belle, Seb Foucan, Johann Vigroux, Kazuma, Sebastian Goudot, serta beberapa nama lainnya, ia tergabung sebagai “Generasi Kedua “setelah David dan Sebastian meninggalkan Yamakasi. Dan sekarang Stephane adalah salah satu direktur di Parkour Generations bersama Dan Edwardes dan Francois “Forrest” Mahop.

Sedangkan Thomas Couetdic adalah salah satu praktisi parkour yang terkenal dengan jiwa petualangnya. Ia dan David Belle ikut ambil bagian.di film Babylon A.D (juga merupakan bagian dari Parkour World Tour w/David Belle). Thomas melakukan perjalanan ke Lisses untuk belajar langsung di tempat asalnya. Karena jiwa petualangnya inilah ia menyetujui untuk datang ke Indonesia . Thomas juga menjadi salah satu alasan mengapa Stephanne Vigroux mau datang ke Indonesia . Ia juga pernah melakukan trip Eurasia dengan sepeda. Tidak hanya itu, Thomas juga seorang blogger yang tulisannya menginspirasikan para praktisi.

Mereka berdualah adalah salah satu alasan Jamnas dari tanggal 24 – 26 September 2010 ini begitu spesial. Inilah catatan selama tiga hari aktifitas yang penuh peluh, keringat, serta luka tapi tetap bahagia.

 

Hari 1 (24 September 2010)

Registrasi

Hari pertama untuk sesi pagi adalah waktunya untuk menyambut para peserta yang datang dari berbagai daerah. Ada yang dari Jaobdetabek, ada yang dari jawa barat dan sekitarnya, Banten, Yogyakarta, Jawa Timur dan sekitarnya, pulau Bali dan Lombok, serta peserta terjauh dari pulau Kalimantan. Ternyata kabar kedatangan kedua ‘tamu’ parkour juga membius para praktisi asal negara tetangga kita dari Filipina.

Registrasi

Registrasi, pelunasan pembayaran, pembagian kamar, kaos serta baller ID mewarnai jumat pagi itu. Setelah semua mendapat semua yang dibutuhkan, maka para peserta bersiap menuju tempat titik latihan untuk hari pertama di bukit Jayagiri.

Natural Training. Disambut Hujan dan Lumpur

Setelah melaksanakan ibadah Sholat Jumat dan makan siang di kawasan Lembang, para peserta bersiap berjalan menuju kaki bukit Jayagiri untuk mlaksanakan latihan pertama, yaitu latihan di alam bukit dan hutan.

Persiapan dimulai setelah Stephane dan Thomas hadir di tengah-tengah para peserta. Dimulai dari kata sambutan dari panitia, sambutan dari perwakilan PKID, serta sambutan dari Stephane Vigroux. Stephane berharap, bahwa peserta tetap memiliki motivasi lebih untuk beberapa hari kedepan.”Push yourself hard!. Stay safe, and have fun,” dengan aksen Perancis-nya yang kental.

Sebelum mulai untuk berangkat, para peserta dibagi menjadi 8 kelompok yang dipimpin oleh team leadernya untuk mengawasi. Disaat inilah, kami disambut hujan besar. Tapi karena tidak ada kata mundur dan semua sudah memutuskan untuk lanjut, maka perjuangan keras pun dimulai untuk semi militer di hutan yang baru pertama kali dijajaki ini. Ada sebuah rules yang unik disini. Para panitia memberikan setiap peserta botol minuman.

Rulesnya, masing-masing peserta harus tetap memegang botolnya masing-masing dan tidak boleh membuangnya selama perjalanan. Botol itu harus dikembalikan ke panitia sebagai ‘tiket’ untuk mendapatkan makan malam. Selain rules tersebut, Stephane dan Thomas meberikan 4 Challenge buat masing-masing grup. Mereka harus bisa melakukan 4 challenge tersebut. Yaitu:

  • Balance 15 detik, 30 detik (4 x)
  • Hang Shimmy (Bergelantungan) durasi 20 menit.
  • Carrying (Menggendong temannya) uphill & downhill 100 meter.
  • Quadrupedie durasi 10 menit

Syarat lainnya yang harus diperhatikan adalah, “We start together, we finish together. No man left behind. We do the same thing”. Semua dilakukan sesama satu grup. Harus selesai bersama-sama. Sebuah tantangan yang menarik. Bukan hanya untuk melatih fisik secara personal, tapi juga kebersamaan dalam satu grup.

Tepat pukul 2 siang para peserta masuk ke dalam bukit hutan Jayagiri yang sedang hujan, penuh lumpur dan becek. Sebagian ada yang memakai jas hujan, sebagian lagi tetap basah-basahan. Bahkan ada yang nekat untuk melepas sepatunya dan menitipkan ke panitia. Bagian pertama begitu melehakan karena harus mengikuti jalan setapak yang menanjak. Tepat di jalur tanjakkan, tersebut, terdapat pipa besi saluran air dari atas bukit. Sebagian grup mengambil pipa besi tersebut untuk dijadikan sarana dalam melakukan challenge pertama, yaitu balancing selama 15 menit, dan 30 menit sebanyak 4 kali. Semua dilakukan bersama-sama. Bila ada satu orang yang terjatuh, maka semua orang harus mengulanginya dari awal. Pipa besi tersebut licin dengan air hujan dan tanah lumpur. Otomatis, beberapa peserta berulangkali terjatuh dan terpaksa haru mengulang hitungan dari awal bersama grupnya.

Setelah berhasil melewati tantangan tersebut, perjalan dilanjutkan terus menanjak ke atas bukit. Beberapa peserta memutuskan untuk melakukan tantangan kedua, yaitu menggendong orang naik turun bukit sejauh 100 meter. Kaki dan paha terasa mau teriak minta ampun. Pekerjaan yang ngga gampang, tapi nyatanya banyak yang berhasil melewatinya.

Perjalanan berlanjut. Beberap peserta terlihat sedang dipimpin oleh Thomas yang saat itu mengawasi dengan wajah penuh lumpur. Terdapat pohon tumbang di jalur menanjak tersebut dan dijadikan grup yang dipimpin sebagai tempat untuk latihan. Thomas sempat terlihat menginstruksikan dengan tegas kepada para peserta yang ‘bandel’ dan malas. Bahkan, ia sempat dengan tegas menginstruksikan para grup lain yang ‘menonton’ untuk melanjutkan perjalanan.

Quadrupedal movement dilakukan selama 10 menit nonstop. Beberapa grup melakukannya dengan mengambil lokasi menanjak. Biasa quadrupedal dilkakukan berdasarkan jarak, namun kali dilkaukan berdasarkan waktu. Sehingga kalo ada yang tertinggal, orang terdepan bisa kembali ke belakang sambil tetap quadrupedal.

Di bagian jembatan, tantangan terakhir biasanya dilakukan. Namun sebenarnya waktunya mepet. Sebagian ada yang melakukan tantangan ini, sebagian melewatinya. Di bagian jembatan inilah beberapa grup terlihat melakukan hang shimmy di bagian konstruksi besi jembatan yang tipis. Stephane menerangkan suapa para peserta melakukan hang shimmy dari ujung ke ujung tanpa boleh jatuh. Bila tidak kuat, para peserta harus climb up ke atas jembatan. Tapi bila jatuh, peserta harus push up 100 kali. Stephane menyuruh peserta membayangkan dalam situasi darurat harus bergelantungan. Bila sampai jatuh, kita mati. Berat, basah, licin, capek, pegal bahkan kram bagian tangan bercampur menjadi satu. Tapi semuanya bisa dilewati.

Selesai tantangan tersebut, semua peserta siap-siap turun bukit untuk pulang. Saat itu, cahay sudah mulai redup. Gelap dimana-mana. Bayangkan di tengah hutan tanpa ada lampu. Peserta menelusuri jalan menurun yang berkelok dan gelap. Saat kita jalan, Thomas memerintahkan kita untuk berlari turun. Saat sampai di posisi fina, baju, sepatu, celana sudah basah. Dinginnya udara pegunungan membuat menggigil. Namun Thomas membuka bajunya. Beberapa peserta lain bilang, kalau Thomas senang dengan hutan ini karena hutan ini hangat dibandingkan hutan di negaranya. 

Gathering PKID

Berbagi dan Menuai. Udah kayak Seminar

Jam 19.30 waktu Bandung , para peserta kembali ke wisma dengan menggunakan truk militer. Setelah mandi dan makan malam, para peserta diundang panitia untuk menempati aula wisma untuk bersosialiasai dengan memperkenalkan masing-masing komunitasnya. Bahkan para peserta dari Parkour Philiphines juga diundang. Tawa canda, dan sharing pun terjadi di sesi ini. Rasa ngantuk sedikit terobati dengan tingkah lucu “Arek-arek Mboiss”, yaitu para praktisi asal Jawa Timur dan Yogyakarta . Sehingga selesai acara, tidur pun pulas dengan apa yang terjadi di hari berikutnya.

Capek dan ngatuk abis dari Jayagiri

 

Hari 2 (25 September 2010)

The Workshop

Laper mas.

Setelah menghabiskan sarapan pagi, para peserta bersiap melanjutkan perjalanan menuju kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai tempat workshop parkour hari ke-2. Setelah kemarin berjibaku dengan lingkungan hutan dan bukit, hari kedua ini kami beradaptasi dengan lingkungan konkrit struktur bangunan ITB. Semua peserta menggunakan kaos coklat Jamnas 2010 yang seragam dan mulai berkumpul bersama di salah satu halaman parkir sambil menunggu kedtangan Thomas dan Stephane. Sambil menunggu, panitia mebagi kembali para peserta menjadi 6 grup dan memulai jogging disekeliling ITB dalam waktu 20 menit nonstop.

Ini Warm Up apa S n C?
Thomas Mengawasi

Setelah Thomas dan Stephane tiba, mereka mengambil alih sesi warm up dengan beberapa teknik warm up yang sedikt berbeda dengan warm up di hari pertama. Luar biasa warm up yang dilakukan, benar-benar membuat otot panas. Bahkan sebagian merasa warm up yang dilakukan plus-plus seperti udah kayak melakukan Strenght & Conditioning. Durasinya juga ngga sebentar. Belum lagi ditambah sesi Quadrupedal dengan berbagai cara yang berbeda. Cukup membuat ngos-ngosan bagi mereka yang jarang melakukan quadrupedal.

Chair Position. Awas sobek

Setelah sesi tersebut, para peserta dari 6 grup dibagi menjadi dua bagian. Bagian utara diisi 3 grup dipandu oleh Stephane dan bagian selatan diisi 3 grup dipandu oleh Thomas. 3 grup dibagian dipisah di 3 obstacles berbeda, begitu pula di bagian selatan. Nampaknya di bagian utara yang dipandu oleh Stephane banyak diisi oleh materi teknik. Di grup pertama disi dengan materi cara landing yang halus, rolling, precision jump, running precision, balance, dll. Bahkan Stephane menginstrusikan kepada beberapa praktisi yang sudah bisa running precision untuk memulai melakukan teknik tersebut sebanyak 10 kali dengan menggunakan tolakan kaki kiri bergantian dan tolakan kaki kanan dengan mendarat secara presisi (ngga kurang, ngga lebih).

Repetition Flow Session

Sementara di obstacles lain, Stephane memerintahkan kepada grup yang terdapat di lokasi tersebut untuk bergerak secara fluid melalui beberapa obstacles yang ada dan melakukan sebanyak 5 kali. “No need a rush’” katanya. Begitupula di obstacles ketiga di bagian utara. Stephane menginstrusikan untuk melakukan gerakan flow secara fluid berulangkali. Passement (vault), lari terus ke bawah tangga, turn vault and dismount, wallrun & climb up dilakukan berulang-ulang sementara peserta yang menunggu giliran menunggu temannya selesai dengan posisi chair.

Sedangkan di bagian selatan, nampaknya Thomas memandu setiap peserta dengan lebih intens. Latihan mengatasi mental block dengan conditioning menjadi makanan para peserta yang mendapat bagian di obstacles bagian selatan. Presisi, cat leap, explosive, wall hop, dll. Intinyasemua mental block, mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan dalam 1 kali repetisi. Banyak yang bilang bahwa metode Thomas lebih disiplin dan keras di peserta bagian selatan. Workshop sesi pertama selesai dengan sukses disambut dengan makan siang dan istirahat.

Hujan Turun, Rencana B. Training In The Rain

Rencananya, siang hari adalah waktunya Workshop Sesi 2 dengan pergantian posisi dari 3 grup yang ada di utara menjadi selatan, begitupun sebaliknya. Namun cuaca tidak mendukung, hujan lebat pun turun membasahi semua obstacles maka para peserta memilih bertedung di sebuah aula olahraga yang sedang digunakan untuk pertandingan hockey.

Namun ternyata hujan bukan menjadi penghalang bagi Stephane Vigroux dan Thomas Couetdic untuk melanjutkan apa yang sudah direncankan. Maka rencana pu n berubah menjadi training in the rain. Thomas dan Stephane memberi kemurahan, bagi mereka yang mau ikut silahkan, namun bila yang tidak mau ikut juga tidak apa-apa. Menurutu Thomas semakin sedikit yang mau ikut, semakin bagus. Semakin terlihat semangat parkour yang sesungguhnya yang tidak kenal kondisi dan situasi.

Latihan di bawah hujan ini dilakukan dengan cara berlari mengelilingi luasnya ITB sambil melewati semua obstacles yang ada dengan cara apapun. Ketikan ketemu tembok kecil, kami meleatinya dengan safety passement (vault). Bila ketemu titian, maka kita semua mencoba balancing di titian tersebut, ada gap, kita semua melakukan safety saut de precision (precision jump) bahkan saut de brass (arm jump) dengan dijaga oleh Thomas dan Stephane. Uniknya, yang menunggu giliran atau yang sudah selesai tetap menunggu dengan tetap jogging di tempat atau chair position. Kurang lebih 30 menit lebih berlari di bawah hujan, sampai akhirnya beberapa gerakan Strenght & Conditioning menjadi puncaknya.

Di sesi terakhir sebelum istirahat, Stephane mencari tempat berteduh dan menginstrusikan gerakan conditioning bagian core dan sedikit relaksasi stretching yang berfokus terhadap mengatur nafas. Belum pernah merasakan stretching serileks itu. Stephane menyuruh kita duduk bersila dan rileks dengan mengingat segala moment menarik selama 2 hari tersebut, mulai dari suasana, bahkan sampai gerakan yang berhasil kita kuasai. Dan luar biasa, perasaan lahir kembali sebagai seorang praktisi parkour tumbuh di dalam semua orang yang merasakannya. Tambahan dari Stephane, saat stretching dan conditioning, jangan ada suara. Bahkan Thomas sempat berkomentar, saat melakukan stretching dan conditioning jangan tertawa atau berbicara, karena akan mengurangi masuknya udara ke otot. Itulah akhir sesi latihan di bawah hujan.

Sesi Tanya Jawab

Setelah sesi latihan dan makan malam, saatnya acara yang ditunggu-tunggu. Yaitu sesi tanya jawab kepada kedua praktisi asal Perancis tersebut. Mulai dari pertanyaan sederhana sampai pertanyaan seputar bersifat pribadi. Beberapa orang terlihat melontarkan pertanyaan seputar tanggapan mereka tentang parkour di Indonesia, konsep parkour, pemahaman, MTV UPC, pertanyaan seputar David Belle, bahkan tentang hal yang berhubungan dengan pribadi.

Ada beberapa hal yang menarik dari setiap pertanyaan. Ada tiga yang paling membekas. Yang pertama pertanyaan tentang arti traceur itu sebenar buat orang yang berlatih parkour atau yang sudah ahli. Stephane sempat tertawa karena ia merasa lucu banyak orang yang menggunakan kata-kata itu sebagai identitas bahwa dirinya praktisi parkour. Sebenarnya kata traceur itu adalah nama sekelompok teman generasi kedua (setelah Yamakasi bubar) yang berlatih dan bermain bersama. Kata-kata itu muncul dari candaan mereka yang tadinya mereka ingin menjadi cepat bagaikan peluru. Makanya artinya to trace itu adalah supaya cepat. Dan sebutan utu sebenarnya hanya untuk kalangan mereka saja (sekelompok teman generasi kedua aja: David Belle, Sebastian Foucan, Stephane, Johann, Kazuma, Seb Goudot, Michael Ramdan dll). Namun ternyata banyak org yang mengganggap keran dan dijadikan sebutan untuk mengaku dirinya praktisi parkour. Menurut Stephane,sebutan untuk orang yang berlatih parkour yang tepat adalah ‘Parkour Practitioner’ atau Praktisi Parkour.

Question 7 Answer wit SV and TC. Willy lagi paduan suara..:p

Pertanyaan kedua adalah mengenai pendapat mereka mengenai perbedaan antara parkour, freerunning dan ADD. Menurut Stephane dan Thomas, semunya sebenarnya sama dari satu akar. Intinya bukan perbedaannya, tapi intinya adalah tidak usah memikirkan perbedaan masalah nama itu. Menurut Thomas bukan itu yang penting untuk dipermasalahkan. Yang penting adalah program latihannya yang benar.

Pertanyaan lainnya adalah, cerita pengalaman mereka yang spesial selama mereka berlatih dengan David Belle. Menurut Thomas, David Belle mulai berlatih bersamanya karena Thomas menujukkan kalo dia mulai serius latihan. David Belle tidak pernah mengjarkannya, David Lebih membiarkannya berkembang sendiri untuk menemukan parkour sebenarnya. Selaqin itu, David Belle juga seing menjak latihan dis ituasi tak terduga. Malam-malam memanjat pohon dan melompat ke dahan pohon lainnya dalam keadaan gelap gulita. David Belle hanya menyuruh untuk menghapal batang yang dilihatnya pada siang hari. Kalau tidak tepat, dia akn terluka. Berkat kosentrasi Thomas yang baik, maka dia berhasil melompatinya. Lain halnya dengan Stephane. Berlatih bersama David Belle merupakan memori yang menyakitkan baginya. Penuh latihan keras. Bahkan David Belle pernah membangunkannya saat jam 2 malam saat dia sedang tertidur untk melompati sebuah obstacles. David Belle bertanya apakah Stephane mampu melompati obdtacles tersebut? Dalam keadaan ngantuk, Stephane menjawab bisa. Karena jawaban bisanya, David Belle menyuruhnya untuk bangun dan membuktikannya. Bagi David Belle adalah tanggung jawab apa yang sudah dikatakannya. Stephane beruntung bisa bertemu dengan seorang yang serius dan berdedikasi tingga dalam sesuatu yang dikerjakan seperti David Belle.

SV and TC in Javanese Fashion. :p

Pertanyaan lainnya dilontarkan oleh para peserta dengan selingan gelak tawa. Di akhir sesi Tanya Jawab, Thomas dan Stephane mengucapkan terima kasih pada para peserta dan pantia atas usahanya. \Yang menarik, para peserta dari Jogjakarta menghadiahkan Stephane dan Thomas blankon dan baju ala dalang kepada Stephane dan Thomas sebagai cendera mata. Momen yang paling menarik.

 

Hari 3. (26 September 2010)

Free Jam

Hari terakhir adalah harinya packing persiapan pulang dan bersiap untuk melaksanakan Free Jam session di kampus Itenas. Para peserta bersiap-siap menuju lokasi kampus yang disusul oleh Stephane dan Thomas. Sebelum melakukan sesi Free Jam, panitia mengucapkan kata-kata penutupan pertanda berakhirnya acara Jamnas 2010.

Warm Up Before Free Jam

Setelah upacara penutupan, Stephane dan Thomas kembali memimpin warm up untuk free jam yang dilanjutkan dengan jogging 10 menit. Warm up hari ini berbeda dan lebih ringan dari hari pertama dan kedua, namun tetap membuat panasa otot dan sendi kita. Setelah warm up dan jogging, maka para peserta dibebaskan untuk berkreasi.

Wallrun Arbi
Grab The Edge Mr. Willy. Becareful with the boy..:p

Yang menarik di free jam ini adalah latihan khusus untuk para praktisi wanita yang dipandu oleh Stephane dan Thomas langsung. Mereka berlatih menggunakan obstacles portable yang dibuat oleh panitia.

Traceuse Corner nich.. :p. Yukino Almira ngeflow..:p
Dea hati2 jatuh..:p
Thomas with the Girls

Suasana pun berlangsung sampai makan siang datang. Sebagin ada yang berfoto atau tetap jamming. Bahkan masih ada yang masih ingin Tanya jawab dengan Thomas dan Stephane. Setelah merasa lelah, berangsur-angsur peserta mengundurkan diri untuk kembali pulang ke kota asalnya masing-masing.

Semua orang pulang dengan kenangan tak terlupakan. Sebuah kenagan yang menujukkan bahwa parkour Indonesia barus saja melewati perjalan mendekati akar parkour sesungguhnya. Walaupun masih banyak yang harus dilatih, namun semangat Jamnas 2010 ini menjawab apa yang ada di benak para praktisi dalam mencari apa parkour sebenarnya buat diri mereka masing-masing. Selain itu, Jamans 2010 menujukkan rasa persaudara tinggi antara sesama komunitas yang menjadi satu dalam komunitas Parkour Indonesia. Bukan sekedar team, bukan sekedar komunitas. Tapi lebih dari itu, Parkour Indonesia adalah sebuah keluarga.

Di depan Wisma

by Bullseye

Written by by Muhamad "Bullseye" Fadli on Wednesday, September 29, 2010 at 10:35pm on Facebook notes.

Sep 28 / 7:17pm

GirlParkour: Event reviews from Jamming Nasional Parkour Indonesia 2010

24th, 25th & 26th September 2010

Jamming National Parkour Indonesia 2010

Location:Bandung, Indonesia

Event Review from Puji

Day 1 Friday

 

The day of the National Parkour Indonesia Jam (JamNas) started with registration of the JamNas attendees which took place from 8am to 11am while waiting for the other participants to arrive at the accommodation at No. 119 RE Martadinata Road,  Bina Marga Building. The weather in the morning during the registration session was still sunny and it was filled with a lot of enthusiasm from everyone gathered there. Practitioners from all over Indonesia came through the gates in high spirits and everyone was happily greeting and welcoming each other.

After everyone was ready and had registered with the organizers, the event proceeded to the valley. Exactly at 11:30am for Friday prayers, everyone headed to the mosque at the first waiting point to sit and have lunch. For the muslim men, they went to fulfil their sholat prayers and during this time, several participants who didn't attend trained with the others. After everyone had reassembled  and taken their lunch organized by the committee, we continued onwards to a hill and waited for the arrival of Thomas Couetdic and Stephane Vigroux. Once they had arrived, JamNas 2010 was officially started by the committee head and the two Parkour Generations representatives. Stephane and Thomas led everyone assembled there in a warm up and divided us up into several teams for the challenge of climbing Mount Jayagiri. This was the first time I had trained in a place that was truly surrounded by nature. The weather up to that point had been drizzling but when the first team passed the gates into Jayagiri, the drizzle turned into a downpour but the rain didn't affect the enthusiasm of the participants.

 

The challenge for us was not just to climb the mountain but also additional challenges were provided such as balancing on fallen trees. Here, we were really tested on our team work and much more. Because of the continuous rain on the day, the weather was really cold and the trekking location was very slippery. Quite a few of us fell because of the slippery mud, the rocky terrain and protruding tree roots. On our first day, we continued training until the darkness of the night descended on us and each and every one of us were covered with mud and drenched from the rain and our sweat. However I swear that the stamina of the participants was really strong because laughter still filled the air on the way back to our lodging. Back at our lodging, the social session event continued.

During the social session, all participants introduced themselves and the district that they had come from, how they developed their parkour and their training methods. Most effectively, several participants from many places filled social night with jokes and laughter and for a while, we forgot our feeling of fatigue from covering those vast distances. As the social night drew to a close, we left the room and headed to our respective beds for the night.

Day 2 Saturday
On the morning of Saturday, 25th of  September, the event started when the organizers woke us up for the communal breakfast. The morning was still sunny at the accommodation. After breakfast, the participants got ready to go to the ITB to carry out the second day of the national jam. In high sprits on that morning, everyone was ready for the workshop to be taught by Stephane Vigroux and Thomas Couetdic. As before, we travelled via military transport. When we arrived at ITB, everyone was divided into the same groups as during the first day and before starting the workhop everyone warmed up and ran for 20 minutes. Then the assigned challenges were given. Each group had the opportunity to learn parkour at a designated spot until 12 noon. I also gained a lot of experience learning about each spot but unfortunately the weather was not on our side and so each group only got 3 spots. Should all participants finish 6 spots, so while waiting for the rain to subside, so we filled the time by joking with each other. Not long afterwards, Thomas and Stephane invited us to run around the ITB in the rain. Because I was afraid to get my shoes wet and not having a spare pair, I and several others decided to just run barefoot. The challenge of running the rain was felt even more because I did not have any soles. I was only able to finish halfway because at that moment both of my calves cramped up. But at least I had a very memorable experience.

While waiting for the pickup back to our accommodation, everyone was taking group photos with each other and created a really friendly atmosphere. Yes, this is because at this moment, all the practitioners who are normally scattered all across Indonesia were gathered together and I am very happy to share this experience with other women because in my hometown I am the only female practitioner. On the second night was the question and answer session and many issues were discussed during this session especially the philosophy of parkour and common problems in the parkour community. Afterwards, the participants from every district carried out performances for Stephane and Thomas. Finally, Thomas advised me to continue training hard and to not be afraid to try something, if I were to try, not to doubt myself, to act and believe in myself but not to the point of injuring ourselves. According to Thomas, doubt is a bad habit. I also asked Thomas how, according to him, the female practitioners in this national jam could continue developing and he said that the female pracitioners who carry out this discipline are courageous and he advised to continuing training hard. Finally, we said our goodbyes and goodnights to each other.

Day 3 Sunday
Going into the last day of the national jam, as one of the participants, I felt very fortunate because I could take part because many things were beneficial and useful for me and could be a resource for me to share with the other practitioners in my home town. On the morning of the third day, the participants looked really tired during breakfast, it was a pity that some participants had to return earlier than the arranged schedule because of their personal arrangements. However while heading towards our final destination at the ITENAS, our spirits returned.  When we arrived at our destination, the weather on the day was quite hot. The organizers commenced the symbolic closing ceremony of the national jam, the best part of the national jam 2010 was when Stephane and Thomas gave a speech and asked how everyone was? All of us in unison replied "MBOISS". The word "mbois" itself was made popular by the East Java and Jogjakarta parkour community, the word comes from the Javanese language that means cool, great, good. And these words first came to light on Facebook from our friends in the parkour communities in East Java.

 

After giving a closing speech and parting words, the participants started the warm up before running. I think that this event is really sucessful because at the beginning, it was only a dream but has now become a reality and now we have this big event which shows that the Parkour Indonesia community is truly a big family. The participants continued the day with the free jamming when everyone was allowed to move as they like, share knowledge and to learn techniques together. There was a golden opportunity for the female practitioners because Stephane and  Thomas were personally helping us to gain some confidence in our movements. As a result, the female practitioners were able to learn directly from them both and this was very beneficial. What I liked was when they said, to move according to the rhythm of your body and to imagine that you are dancing. Therein lies the beauty of parkour for women. I hope that we will remember our interesting experiences and encourage our passion to train with even more diligence. As Thomas Couetdic said, "We start together, We finish together no man left behind. We do the same thing" Keep going, all parkour practitioners.

-Pujiati Sharani, Parkour Samarinda

 


Rifna's Event Review

This is my first experience attending the national jam (JamNas) 2010.
I have been practising parkour for just 2 years and this is the first time I've participated in an event of this size.

The news had just surfaced that Stephane Vigroux and Thomas Couetdic would be coming to JamNas and I found that the feedback was extraordinary. At the start, I counted only a few attending  from Tangerang but 11 people attending JamNas from Tangerang including myself , was an amazing number to me. The latest news that I heard from my friend and JamNas committee member Willy, was that 150 people would be attending this annual event!! Wow, awesome.

I had a few misgivings, was afraid and didn't believe in myself. I'm only a girl whose parkour skill is 0.0001% of KAT's (Kat de la Torre), while the participants who would attend JamNas were stars of Youtube Indonesia. Suddenly, I wanted to back out thinking of my various weaknesses, of which there were many, but with the others, I brought the name of Tangerang, I am one of the Tangerang representatives and I have to be there.

Friday, 24 September, the day.
The day finally arrived. After I almost could not sleep because of a painful stomach and feeling like I wanted to throw up, I felt like a weak child who had to be taken by the hand until I couldn't sleep. What a dilemma.

At 7 o'clock sharp, Bis brought me to Bandung with the other 10 participants. I was praying throughout the whole journey that the pain would not worsen. From Twitter and Facebook I found out that the other attendees had already completed their registration and that Parkour Tangerang were actually the last group to arrive.

The first day of the event, at around 11:30 we were brought to the valley and from the event schedule we would be doing a 2 hour climb of Mount Jayagiri, then running downhill for 2 hours. The event commenced after the practitioners had carried out friday sholat prayers, lunch and divided into groups. I was in group 6, there were 16 people in our group: 14 male practitioners and 2 female practitioners. Before leaving for Jayagiri, we were given directions about what we were going to do there, a few games had been prepared to judge our physical capabilities. I had never climbed a mountain before, I could only pray again in my heart.

At the starting point, finally I met Stephane and Thomas, it turns out that they are very very friendly :) And the event started. Stephane opened JamNas 2010 at the foothills of Jayagiri with a warming up session. His English had a very very obvious French accent when he gave us instructions but he was easy to understand. And then the climbing started while the heavy Bandung rain poured down. My fears only increased as I get the chills easily. I started praying again in my heart.

We then did all the each games made by the committee. Carrying each other, balance, quadrepedal movement uphill on the muddy ground (like crawling on a treadmill) until finally we finished Thomas's training. I was so thankful to be taught by a parkour practitioner of his calibre. Although obviously Thomas only considered me as a girl who likes to cause mischief with my actions for example when I almost fell from a high place and the stamp of "troublemaker" was placed on my forehead. Hah, what a day. It was as if my prayers did not help place me out of trouble's reach. (-.-")

I never wear a watch so I didn't know for how long we wear climbing under the rain. Maybe at around 6 o'clock we started downhill. There were  a few problems when we started descending, many of us took off our shoes when climbing, resulted in problems frequently occuring, such as  slipping. In addition to the loss of daylight because night was approaching, I could only see the silhouettes of the people right in front of me and the roots of the trees crossing the path made me trip a lot. In these conditions, I remembered one sentence:

"Never leave a man behind"

I tried to help my friends who were having difficulty in walking because they were shoeless or those who were in the dark. I'm not strong, I can only help those that I can. But the most important thing was that I didn't leave my team.

9:30p.m. After all the strength had been used up in the climb, after shoes, shirts, wet training trousers were completely soaked, after taking a shower and dinner, all the practitioners assembled for the social meeting. All the tiredness disappeared momentarily, we laughed together and I could say:

"Hi, I'm Ina, one of the representatives from Parkour Tangerang :)"

Saturday, 25 September, Day 2.
I woke up feeling as if I'd just been beaten up by some thieves who had crept in during the night. My body huuuuuuurt everywhere. But it didn't dampen my excitement for the second day. I read the day's rundown, we had 2 workshops with Stephane and Thomas at ITB. Can't wait!

We were divided into 6 groups of around 19 or 20 people in each group, then Thomas started to lead the warm up. I learnt many variations of warm up movements. Really intensive warm up before doing parkour. I thought that what I learnt before was tough, but obviously that was only average. We carried out several variations of quadrepedal movements, then we ran around the ITB for about 20 minutes, while in my mind, the words of "never leave a man behind" were still in my mind.

Anyway, every time Thomas met me he always asked,

"Did you make any problem today?"

Dang, obviously the label of "troublemaker" is still stamped on my forehead.

And the workshop started. The committee had prepared 6 spots in the ITB area and each group led by their leader would rotate between each spot to try them. 6 spots were divided to become 2, 3 spots were held by Stephane and 3 spots were held by Thomas. We got Thomas's spot first. We tried 3 spots and at each spot we did different movements. At the first spot we did precision jumps for about 10 minutes, at the second spot, we did cat leap (saut du chat) and we met with Thomas there. I found that when I was at the second spot, the grip of the bar for the catleap (SDC) was too high and because my jump was not high enough, I could only just touch the grip and my left knee slammed hard into the wall. I got a bruise and was seriously affected by a mental block when I wanted to try a second time.

A few tips from Thomas,
"When you want to jump, you jump, or you don't jump at all, but do not jump and was like "no..no..no". Because that's dangerous"

At the third spot, Opal, the president of Parkour Bandung led us on some balancework on a bar, alternating each foot for 2 minutes. After the first 3 spots, we took a break for lunch, rest and chatting and laughing with the other practitioners. :) Unfortunately for us, Bandung's heavy rains returned full force. There were still 3 spots left and our group had not yet been taught by Stephane :( But our spirits picked up, because when the rain had reduced, Opal proposed to run around the ITB with Thomas and Stephane. I tried to run barefoot, ouch, it hurt a lot. Also my knee that was still throbbing and bruised came back the moment I did small movements. Double throbbing :D

At night, there was a Question and Answer session with Thomas and Stephane in the hall, but from  exhaustion I dozed off and woke up at 11pm when everyone in the hall was clapping and finishing the event. Hmm.. I arrived late and really regretted it. But it's ok :)

Sunday, 26 September, the last day

I think, I'm the only one who gets up with feeling really stiff and immobile. So, when I saw that everyone else was walking rather akwardly, my self confidence increased. Evidently, they are human too just like me :)

And this was the last day of JamNas 2010. We did the closing ceremony in ITENAS and then free jamming with Stephane and Thomas. We took photos with them to remember this moment and asked them to autograph my shirt so that I would feel motivated during training.

 

At 1 o'clock, I bid farewell to all the practitioners. Quite sad, I will definitely miss the hustle and bustle of JamNas. When saying goodbye to Stephane I wanted to sing "Time to Say Goodbye" by Sarah Brightman but then I remembered that I was only daydreaming, so I didn't sing. And when saying goodbye to Thomas, he looked at me as if saying:
"Stay away from problem young lady"

- Rifna Nurrahmawati
Parkour Tangerang, 28 September 2010

Thank you Rifna 'Ina' Nurrahmawati (Parkour Tangerang) and Puji 'Uci' Syahrani (Parkour Samarinda) for the awesome reviews. Thank you Shi (Parkour Sydney) for posting and translating these reviews on GirlParkour.com. Please spread this out, guys! ;)