Bandung , 24-26 September 2010
Berawal dari sebuah cita-cita dan impian berbuah kenyataan. Semua itu tidak lepas dari kerja keras untuk mewujudkan impian itu. Pernyataan ini sangat tepat ditujukan para praktisi parkour Indonesia, khusunya bagi Parkour Bandung yang telah menjadi tuan rumah buat acara besar buat Parkour Indonesia, yaitu Jamnas 2010 dengan tema “A Journey Closer To The Root”.
Yang membahagiakan dari Jamnas kali ini adalah kehadiran Stephane Vigroux dan Thomas Couetdic , dua praktisi parkour berpengalaman asal Perancis yang saat ini tergabung dalam organisasi Parkour Generation.
Siapakah mereka?
Orang yang pertama adalah Stephane Vigroux. Ia merupakan anak didik langsung dari founder parkour, David Belle. Bersama David Belle, Seb Foucan, Johann Vigroux, Kazuma, Sebastian Goudot, serta beberapa nama lainnya, ia tergabung sebagai “Generasi Kedua “setelah David dan Sebastian meninggalkan Yamakasi. Dan sekarang Stephane adalah salah satu direktur di Parkour Generations bersama Dan Edwardes dan Francois “Forrest” Mahop.
Sedangkan Thomas Couetdic adalah salah satu praktisi parkour yang terkenal dengan jiwa petualangnya. Ia dan David Belle ikut ambil bagian.di film Babylon A.D (juga merupakan bagian dari Parkour World Tour w/David Belle). Thomas melakukan perjalanan ke Lisses untuk belajar langsung di tempat asalnya. Karena jiwa petualangnya inilah ia menyetujui untuk datang ke Indonesia . Thomas juga menjadi salah satu alasan mengapa Stephanne Vigroux mau datang ke Indonesia . Ia juga pernah melakukan trip Eurasia dengan sepeda. Tidak hanya itu, Thomas juga seorang blogger yang tulisannya menginspirasikan para praktisi.
Mereka berdualah adalah salah satu alasan Jamnas dari tanggal 24 – 26 September 2010 ini begitu spesial. Inilah catatan selama tiga hari aktifitas yang penuh peluh, keringat, serta luka tapi tetap bahagia.
Hari 1 (24 September 2010)
Registrasi
Hari pertama untuk sesi pagi adalah waktunya untuk menyambut para peserta yang datang dari berbagai daerah. Ada yang dari Jaobdetabek, ada yang dari jawa barat dan sekitarnya, Banten, Yogyakarta, Jawa Timur dan sekitarnya, pulau Bali dan Lombok, serta peserta terjauh dari pulau Kalimantan. Ternyata kabar kedatangan kedua ‘tamu’ parkour juga membius para praktisi asal negara tetangga kita dari Filipina.
Registrasi, pelunasan pembayaran, pembagian kamar, kaos serta baller ID mewarnai jumat pagi itu. Setelah semua mendapat semua yang dibutuhkan, maka para peserta bersiap menuju tempat titik latihan untuk hari pertama di bukit Jayagiri.
Natural Training. Disambut Hujan dan Lumpur
Setelah melaksanakan ibadah Sholat Jumat dan makan siang di kawasan Lembang, para peserta bersiap berjalan menuju kaki bukit Jayagiri untuk mlaksanakan latihan pertama, yaitu latihan di alam bukit dan hutan.
Persiapan dimulai setelah Stephane dan Thomas hadir di tengah-tengah para peserta. Dimulai dari kata sambutan dari panitia, sambutan dari perwakilan PKID, serta sambutan dari Stephane Vigroux. Stephane berharap, bahwa peserta tetap memiliki motivasi lebih untuk beberapa hari kedepan.”Push yourself hard!. Stay safe, and have fun,” dengan aksen Perancis-nya yang kental.
Sebelum mulai untuk berangkat, para peserta dibagi menjadi 8 kelompok yang dipimpin oleh team leadernya untuk mengawasi. Disaat inilah, kami disambut hujan besar. Tapi karena tidak ada kata mundur dan semua sudah memutuskan untuk lanjut, maka perjuangan keras pun dimulai untuk semi militer di hutan yang baru pertama kali dijajaki ini. Ada sebuah rules yang unik disini. Para panitia memberikan setiap peserta botol minuman.
Rulesnya, masing-masing peserta harus tetap memegang botolnya masing-masing dan tidak boleh membuangnya selama perjalanan. Botol itu harus dikembalikan ke panitia sebagai ‘tiket’ untuk mendapatkan makan malam. Selain rules tersebut, Stephane dan Thomas meberikan 4 Challenge buat masing-masing grup. Mereka harus bisa melakukan 4 challenge tersebut. Yaitu:
- Balance 15 detik, 30 detik (4 x)
- Hang Shimmy (Bergelantungan) durasi 20 menit.
- Carrying (Menggendong temannya) uphill & downhill 100 meter.
- Quadrupedie durasi 10 menit
Syarat lainnya yang harus diperhatikan adalah, “We start together, we finish together. No man left behind. We do the same thing”. Semua dilakukan sesama satu grup. Harus selesai bersama-sama. Sebuah tantangan yang menarik. Bukan hanya untuk melatih fisik secara personal, tapi juga kebersamaan dalam satu grup.
Tepat pukul 2 siang para peserta masuk ke dalam bukit hutan Jayagiri yang sedang hujan, penuh lumpur dan becek. Sebagian ada yang memakai jas hujan, sebagian lagi tetap basah-basahan. Bahkan ada yang nekat untuk melepas sepatunya dan menitipkan ke panitia. Bagian pertama begitu melehakan karena harus mengikuti jalan setapak yang menanjak. Tepat di jalur tanjakkan, tersebut, terdapat pipa besi saluran air dari atas bukit. Sebagian grup mengambil pipa besi tersebut untuk dijadikan sarana dalam melakukan challenge pertama, yaitu balancing selama 15 menit, dan 30 menit sebanyak 4 kali. Semua dilakukan bersama-sama. Bila ada satu orang yang terjatuh, maka semua orang harus mengulanginya dari awal. Pipa besi tersebut licin dengan air hujan dan tanah lumpur. Otomatis, beberapa peserta berulangkali terjatuh dan terpaksa haru mengulang hitungan dari awal bersama grupnya.
Setelah berhasil melewati tantangan tersebut, perjalan dilanjutkan terus menanjak ke atas bukit. Beberapa peserta memutuskan untuk melakukan tantangan kedua, yaitu menggendong orang naik turun bukit sejauh 100 meter. Kaki dan paha terasa mau teriak minta ampun. Pekerjaan yang ngga gampang, tapi nyatanya banyak yang berhasil melewatinya.
Perjalanan berlanjut. Beberap peserta terlihat sedang dipimpin oleh Thomas yang saat itu mengawasi dengan wajah penuh lumpur. Terdapat pohon tumbang di jalur menanjak tersebut dan dijadikan grup yang dipimpin sebagai tempat untuk latihan. Thomas sempat terlihat menginstruksikan dengan tegas kepada para peserta yang ‘bandel’ dan malas. Bahkan, ia sempat dengan tegas menginstruksikan para grup lain yang ‘menonton’ untuk melanjutkan perjalanan.
Quadrupedal movement dilakukan selama 10 menit nonstop. Beberapa grup melakukannya dengan mengambil lokasi menanjak. Biasa quadrupedal dilkakukan berdasarkan jarak, namun kali dilkaukan berdasarkan waktu. Sehingga kalo ada yang tertinggal, orang terdepan bisa kembali ke belakang sambil tetap quadrupedal.
Di bagian jembatan, tantangan terakhir biasanya dilakukan. Namun sebenarnya waktunya mepet. Sebagian ada yang melakukan tantangan ini, sebagian melewatinya. Di bagian jembatan inilah beberapa grup terlihat melakukan hang shimmy di bagian konstruksi besi jembatan yang tipis. Stephane menerangkan suapa para peserta melakukan hang shimmy dari ujung ke ujung tanpa boleh jatuh. Bila tidak kuat, para peserta harus climb up ke atas jembatan. Tapi bila jatuh, peserta harus push up 100 kali. Stephane menyuruh peserta membayangkan dalam situasi darurat harus bergelantungan. Bila sampai jatuh, kita mati. Berat, basah, licin, capek, pegal bahkan kram bagian tangan bercampur menjadi satu. Tapi semuanya bisa dilewati.
Selesai tantangan tersebut, semua peserta siap-siap turun bukit untuk pulang. Saat itu, cahay sudah mulai redup. Gelap dimana-mana. Bayangkan di tengah hutan tanpa ada lampu. Peserta menelusuri jalan menurun yang berkelok dan gelap. Saat kita jalan, Thomas memerintahkan kita untuk berlari turun. Saat sampai di posisi fina, baju, sepatu, celana sudah basah. Dinginnya udara pegunungan membuat menggigil. Namun Thomas membuka bajunya. Beberapa peserta lain bilang, kalau Thomas senang dengan hutan ini karena hutan ini hangat dibandingkan hutan di negaranya.
Gathering PKID
Berbagi dan Menuai. Udah kayak Seminar
Jam 19.30 waktu Bandung , para peserta kembali ke wisma dengan menggunakan truk militer. Setelah mandi dan makan malam, para peserta diundang panitia untuk menempati aula wisma untuk bersosialiasai dengan memperkenalkan masing-masing komunitasnya. Bahkan para peserta dari Parkour Philiphines juga diundang. Tawa canda, dan sharing pun terjadi di sesi ini. Rasa ngantuk sedikit terobati dengan tingkah lucu “Arek-arek Mboiss”, yaitu para praktisi asal Jawa Timur dan Yogyakarta . Sehingga selesai acara, tidur pun pulas dengan apa yang terjadi di hari berikutnya.
Capek dan ngatuk abis dari Jayagiri
Hari 2 (25 September 2010)
The Workshop
Setelah menghabiskan sarapan pagi, para peserta bersiap melanjutkan perjalanan menuju kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai tempat workshop parkour hari ke-2. Setelah kemarin berjibaku dengan lingkungan hutan dan bukit, hari kedua ini kami beradaptasi dengan lingkungan konkrit struktur bangunan ITB. Semua peserta menggunakan kaos coklat Jamnas 2010 yang seragam dan mulai berkumpul bersama di salah satu halaman parkir sambil menunggu kedtangan Thomas dan Stephane. Sambil menunggu, panitia mebagi kembali para peserta menjadi 6 grup dan memulai jogging disekeliling ITB dalam waktu 20 menit nonstop.
Setelah Thomas dan Stephane tiba, mereka mengambil alih sesi warm up dengan beberapa teknik warm up yang sedikt berbeda dengan warm up di hari pertama. Luar biasa warm up yang dilakukan, benar-benar membuat otot panas. Bahkan sebagian merasa warm up yang dilakukan plus-plus seperti udah kayak melakukan Strenght & Conditioning. Durasinya juga ngga sebentar. Belum lagi ditambah sesi Quadrupedal dengan berbagai cara yang berbeda. Cukup membuat ngos-ngosan bagi mereka yang jarang melakukan quadrupedal.
Chair Position. Awas sobek
Setelah sesi tersebut, para peserta dari 6 grup dibagi menjadi dua bagian. Bagian utara diisi 3 grup dipandu oleh Stephane dan bagian selatan diisi 3 grup dipandu oleh Thomas. 3 grup dibagian dipisah di 3 obstacles berbeda, begitu pula di bagian selatan. Nampaknya di bagian utara yang dipandu oleh Stephane banyak diisi oleh materi teknik. Di grup pertama disi dengan materi cara landing yang halus, rolling, precision jump, running precision, balance, dll. Bahkan Stephane menginstrusikan kepada beberapa praktisi yang sudah bisa running precision untuk memulai melakukan teknik tersebut sebanyak 10 kali dengan menggunakan tolakan kaki kiri bergantian dan tolakan kaki kanan dengan mendarat secara presisi (ngga kurang, ngga lebih).
Sementara di obstacles lain, Stephane memerintahkan kepada grup yang terdapat di lokasi tersebut untuk bergerak secara fluid melalui beberapa obstacles yang ada dan melakukan sebanyak 5 kali. “No need a rush’” katanya. Begitupula di obstacles ketiga di bagian utara. Stephane menginstrusikan untuk melakukan gerakan flow secara fluid berulangkali. Passement (vault), lari terus ke bawah tangga, turn vault and dismount, wallrun & climb up dilakukan berulang-ulang sementara peserta yang menunggu giliran menunggu temannya selesai dengan posisi chair.
Sedangkan di bagian selatan, nampaknya Thomas memandu setiap peserta dengan lebih intens. Latihan mengatasi mental block dengan conditioning menjadi makanan para peserta yang mendapat bagian di obstacles bagian selatan. Presisi, cat leap, explosive, wall hop, dll. Intinyasemua mental block, mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan dalam 1 kali repetisi. Banyak yang bilang bahwa metode Thomas lebih disiplin dan keras di peserta bagian selatan. Workshop sesi pertama selesai dengan sukses disambut dengan makan siang dan istirahat.
Hujan Turun, Rencana B. Training In The Rain
Rencananya, siang hari adalah waktunya Workshop Sesi 2 dengan pergantian posisi dari 3 grup yang ada di utara menjadi selatan, begitupun sebaliknya. Namun cuaca tidak mendukung, hujan lebat pun turun membasahi semua obstacles maka para peserta memilih bertedung di sebuah aula olahraga yang sedang digunakan untuk pertandingan hockey.
Namun ternyata hujan bukan menjadi penghalang bagi Stephane Vigroux dan Thomas Couetdic untuk melanjutkan apa yang sudah direncankan. Maka rencana pu n berubah menjadi training in the rain. Thomas dan Stephane memberi kemurahan, bagi mereka yang mau ikut silahkan, namun bila yang tidak mau ikut juga tidak apa-apa. Menurutu Thomas semakin sedikit yang mau ikut, semakin bagus. Semakin terlihat semangat parkour yang sesungguhnya yang tidak kenal kondisi dan situasi.
Latihan di bawah hujan ini dilakukan dengan cara berlari mengelilingi luasnya ITB sambil melewati semua obstacles yang ada dengan cara apapun. Ketikan ketemu tembok kecil, kami meleatinya dengan safety passement (vault). Bila ketemu titian, maka kita semua mencoba balancing di titian tersebut, ada gap, kita semua melakukan safety saut de precision (precision jump) bahkan saut de brass (arm jump) dengan dijaga oleh Thomas dan Stephane. Uniknya, yang menunggu giliran atau yang sudah selesai tetap menunggu dengan tetap jogging di tempat atau chair position. Kurang lebih 30 menit lebih berlari di bawah hujan, sampai akhirnya beberapa gerakan Strenght & Conditioning menjadi puncaknya.
Di sesi terakhir sebelum istirahat, Stephane mencari tempat berteduh dan menginstrusikan gerakan conditioning bagian core dan sedikit relaksasi stretching yang berfokus terhadap mengatur nafas. Belum pernah merasakan stretching serileks itu. Stephane menyuruh kita duduk bersila dan rileks dengan mengingat segala moment menarik selama 2 hari tersebut, mulai dari suasana, bahkan sampai gerakan yang berhasil kita kuasai. Dan luar biasa, perasaan lahir kembali sebagai seorang praktisi parkour tumbuh di dalam semua orang yang merasakannya. Tambahan dari Stephane, saat stretching dan conditioning, jangan ada suara. Bahkan Thomas sempat berkomentar, saat melakukan stretching dan conditioning jangan tertawa atau berbicara, karena akan mengurangi masuknya udara ke otot. Itulah akhir sesi latihan di bawah hujan.
Sesi Tanya Jawab
Setelah sesi latihan dan makan malam, saatnya acara yang ditunggu-tunggu. Yaitu sesi tanya jawab kepada kedua praktisi asal Perancis tersebut. Mulai dari pertanyaan sederhana sampai pertanyaan seputar bersifat pribadi. Beberapa orang terlihat melontarkan pertanyaan seputar tanggapan mereka tentang parkour di Indonesia, konsep parkour, pemahaman, MTV UPC, pertanyaan seputar David Belle, bahkan tentang hal yang berhubungan dengan pribadi.
Ada beberapa hal yang menarik dari setiap pertanyaan. Ada tiga yang paling membekas. Yang pertama pertanyaan tentang arti traceur itu sebenar buat orang yang berlatih parkour atau yang sudah ahli. Stephane sempat tertawa karena ia merasa lucu banyak orang yang menggunakan kata-kata itu sebagai identitas bahwa dirinya praktisi parkour. Sebenarnya kata traceur itu adalah nama sekelompok teman generasi kedua (setelah Yamakasi bubar) yang berlatih dan bermain bersama. Kata-kata itu muncul dari candaan mereka yang tadinya mereka ingin menjadi cepat bagaikan peluru. Makanya artinya to trace itu adalah supaya cepat. Dan sebutan utu sebenarnya hanya untuk kalangan mereka saja (sekelompok teman generasi kedua aja: David Belle, Sebastian Foucan, Stephane, Johann, Kazuma, Seb Goudot, Michael Ramdan dll). Namun ternyata banyak org yang mengganggap keran dan dijadikan sebutan untuk mengaku dirinya praktisi parkour. Menurut Stephane,sebutan untuk orang yang berlatih parkour yang tepat adalah ‘Parkour Practitioner’ atau Praktisi Parkour.
Question 7 Answer wit SV and TC. Willy lagi paduan suara..:p
Pertanyaan kedua adalah mengenai pendapat mereka mengenai perbedaan antara parkour, freerunning dan ADD. Menurut Stephane dan Thomas, semunya sebenarnya sama dari satu akar. Intinya bukan perbedaannya, tapi intinya adalah tidak usah memikirkan perbedaan masalah nama itu. Menurut Thomas bukan itu yang penting untuk dipermasalahkan. Yang penting adalah program latihannya yang benar.
Pertanyaan lainnya adalah, cerita pengalaman mereka yang spesial selama mereka berlatih dengan David Belle. Menurut Thomas, David Belle mulai berlatih bersamanya karena Thomas menujukkan kalo dia mulai serius latihan. David Belle tidak pernah mengjarkannya, David Lebih membiarkannya berkembang sendiri untuk menemukan parkour sebenarnya. Selaqin itu, David Belle juga seing menjak latihan dis ituasi tak terduga. Malam-malam memanjat pohon dan melompat ke dahan pohon lainnya dalam keadaan gelap gulita. David Belle hanya menyuruh untuk menghapal batang yang dilihatnya pada siang hari. Kalau tidak tepat, dia akn terluka. Berkat kosentrasi Thomas yang baik, maka dia berhasil melompatinya. Lain halnya dengan Stephane. Berlatih bersama David Belle merupakan memori yang menyakitkan baginya. Penuh latihan keras. Bahkan David Belle pernah membangunkannya saat jam 2 malam saat dia sedang tertidur untk melompati sebuah obstacles. David Belle bertanya apakah Stephane mampu melompati obdtacles tersebut? Dalam keadaan ngantuk, Stephane menjawab bisa. Karena jawaban bisanya, David Belle menyuruhnya untuk bangun dan membuktikannya. Bagi David Belle adalah tanggung jawab apa yang sudah dikatakannya. Stephane beruntung bisa bertemu dengan seorang yang serius dan berdedikasi tingga dalam sesuatu yang dikerjakan seperti David Belle.
SV and TC in Javanese Fashion. :p
Pertanyaan lainnya dilontarkan oleh para peserta dengan selingan gelak tawa. Di akhir sesi Tanya Jawab, Thomas dan Stephane mengucapkan terima kasih pada para peserta dan pantia atas usahanya. \Yang menarik, para peserta dari Jogjakarta menghadiahkan Stephane dan Thomas blankon dan baju ala dalang kepada Stephane dan Thomas sebagai cendera mata. Momen yang paling menarik.
Hari 3. (26 September 2010)
Free Jam
Hari terakhir adalah harinya packing persiapan pulang dan bersiap untuk melaksanakan Free Jam session di kampus Itenas. Para peserta bersiap-siap menuju lokasi kampus yang disusul oleh Stephane dan Thomas. Sebelum melakukan sesi Free Jam, panitia mengucapkan kata-kata penutupan pertanda berakhirnya acara Jamnas 2010.
Setelah upacara penutupan, Stephane dan Thomas kembali memimpin warm up untuk free jam yang dilanjutkan dengan jogging 10 menit. Warm up hari ini berbeda dan lebih ringan dari hari pertama dan kedua, namun tetap membuat panasa otot dan sendi kita. Setelah warm up dan jogging, maka para peserta dibebaskan untuk berkreasi.
Grab The Edge Mr. Willy. Becareful with the boy..:p
Yang menarik di free jam ini adalah latihan khusus untuk para praktisi wanita yang dipandu oleh Stephane dan Thomas langsung. Mereka berlatih menggunakan obstacles portable yang dibuat oleh panitia.
Traceuse Corner nich.. :p. Yukino Almira ngeflow..:p
Suasana pun berlangsung sampai makan siang datang. Sebagin ada yang berfoto atau tetap jamming. Bahkan masih ada yang masih ingin Tanya jawab dengan Thomas dan Stephane. Setelah merasa lelah, berangsur-angsur peserta mengundurkan diri untuk kembali pulang ke kota asalnya masing-masing.
Semua orang pulang dengan kenangan tak terlupakan. Sebuah kenagan yang menujukkan bahwa parkour Indonesia barus saja melewati perjalan mendekati akar parkour sesungguhnya. Walaupun masih banyak yang harus dilatih, namun semangat Jamnas 2010 ini menjawab apa yang ada di benak para praktisi dalam mencari apa parkour sebenarnya buat diri mereka masing-masing. Selain itu, Jamans 2010 menujukkan rasa persaudara tinggi antara sesama komunitas yang menjadi satu dalam komunitas Parkour Indonesia. Bukan sekedar team, bukan sekedar komunitas. Tapi lebih dari itu, Parkour Indonesia adalah sebuah keluarga.
by Bullseye
Written by by Muhamad "Bullseye" Fadli on Wednesday, September 29, 2010 at 10:35pm on Facebook notes.